SANG RAJA PUN MENJAWABNYA #3

“Dunia paralel seperti di doraemon atau seperti yang Bafi sebut tadi, dunia narnia. Pernah ada yang punya pengalaman?” Herry bertanya pada kami.

Kami bertiga menggeleng dengan alis mengernyit. Herry bagai memberikan pertanyaan retoris. Sudah mengetahui apa yang akan kami jawab, tapi tetap mengajukan pertanyaannya.

Apl.de.ap. Herry bagai dirinya yang lebih muda beberapa tahun.
Apl.de.ap. Herry bagai dirinya yang lebih muda beberapa tahun. http://blindallaroundtheworld.blogspot.co.id/2015/04/allan-pineda-lindo-jr-better-known-as.html

“Ok, kita ke pokok utama dulu. Kalian bertiga disini kenapa tertarik datang kemari? Satu-satu ya jawabnya. Detail.” Herry langsung menunjuk Tiara, gadis cantik berkulit putih bersih, yang sejak awal pertemuan tampak kikuk.

“Em… karena minggu lalu temenku kasih lihat aku undangan ini.” Tiara mengangkat undangan yang sama seperti yang dipegang Karin tadi. Berbentuk gunungan wayang, dengan ornamen mengelilingi sisi kanan kirinya. “Aku tertarik, karena aku suka sharing pikiran dan pandangan. Ya, juga karena penasaran banget sih ini pertemuan apa.”  Tiara menutup penjelasannya.

“Ok, berarti karena penasaran ya. Hasbi gimana?”

“Ya, saya cuma diinfo sepupu bahwa dia dan teman-temannya ada cara bertindak untuk Indonesia. Saya ini aktivis lingkungan, sampah lebih tepatnya. Saya tertarik, diminta tunggu sekitar dua minggu. Itu aja sih.”

“Wow, aktivis lingkungan? Keren banget! Ok, yang terakhir, Irdi. Kenapa di?”

Fokusku sempat terbagi antara gelas persegi yang dijadikan aquarium berisi cupang biru keunguan dan penjelasan mereka semua, jadi agak kaget dan terlonjak sedikit ketika Herry menyebut namaku.

“Hmm… soalnya aku suka bentuk dan desain undangannya.” Aku nyengir, “Hehehe, nggak cuma itu kok.” Aku bisa melihat wajah Herry melongo sesaat tadi, “ Indonesia. Karena ada tulisan itu di undangan. Maksudku gini, banyak orang yang kecewa, resah, khawatir dengan negara ini dan hanya mengeluh dengan melakukan tindakan-tindakan yang malah memperburuk kondisi hati mereka dan sekitar. Aku yakin, dengan menimbulkan rasa cinta negara ini setulusnya, rasa khawatir dan semua itu bisa berganti jadi optimisme untuk membangun dari hal-hal terkecil. Misalnya, teman-teman disini setujukah kalau saya bilang orang yang membuang sampah sembarangan itu sama sekali tidak cinta negaranya?” Tiara agak bingung, Hasbi tersenyum, Herry manggut-manggut.

“Kenapa bisa gitu?” tanya Herry.

“Kalau mengaku cinta, kenapa merusak dari hal kecil?” jawabku sambil menjentikkan jempol dan kelingking. “Mereka tidak peduli yang mereka akui sebagai tempat yangmereka cintai ini berantakan, lusuh, kotor. Dari SMP kelas satu, disadarkan oleh suatu majalah, pandanganku soal definisi cinta negara berangsur-angsur berubah. Tadinya aku pikir cinta negara itu hal berat. Ternyata buang sampah di tempatnya, patuh aturan lalu lintas, dan hemat air merupakan beberapa akar dasar cinta negara. Itu aja sih.” Tutupku. Hasbi tersenyum lebar sejak mendengar soal sampah tadi. Barangkali, di dalam pikirannya ada dirinya yang berbadan tinggi gempal sedang berpesta sorak sorai, memakai celana kulit ketat warna emas bersalto di udara sambil menyeringai lebar bahagia dengan pompom pink terang di tangan kanan dan kiri bersama ratusan pemandu sorak. Lalu confetti bertebaran dari langit dan ia berlutut menangis haru dengan tangan menengadah menyambut tebaran confetti karena akhirnya ada yang memahami perasaannya.

“Nice point.” Seru Herry, seketika menarikku dari imajinasi tentang Hasbi dan confetti. “Ok, terima kasih untuk jawaban kalian. Sekarang ada yang bisa memberikan gambaran mengenai keselamatan dan kesejahteraan?” Herry melempar pandangan ke kami bertiga. Sampai beberapa detik, kami bertiga hanya diam berpikir. Fokusku kembali ke si cupang biru ungu, entah mengapa tampaknya hanya aku yang menganggap aquarium gelas persegi itu bagai magnet. Begitu indah dan minimalis. Ukurannya kira-kira 15 x 15 sentimeter dengan ketebalan sisinya 5 sentimeter. Berisi batu-batu koral merah kecil yang disusun di atas pasir hias padat kira-kira setebal 3 sentimeter dan dua tanaman hias, hanya dihuni oleh seekor cupang biru keunguan dengan ekor yang indah menjuntai. Aku ingin sekali mendekat ke aquarium di atas meja di pojok ruangan itu.

“Bagus ya?” suara Herry tiba-tiba mengalihkan perhatianku dari si biru ungu. “Itu jenis slayer (pembantai-Inggris). ” Papar Herry ketika memergokiku terus memandangi si biru ungu.

“Hoh?” aku melongo,”Oh, namanya seram juga ya, padahal cantik banget bentuknya.”

“Tidak selamanya sesuatu yang terdengar seram, faktanya seperti namanya.” Lanjut Herry tersenyum. “Ok, hehehe, ini pada grogi ya untuk kasih pandangan tentang keselamatan kesejahteraan? Sebegitu beratkah?” tanya Herry sambil tertawa santai.

Si biru ungu mirip seperti ini. Namun aquariumnya sedikit lebih lebar. http://inventorspot.com/articles/fish_bowls_27109
Si biru ungu mirip seperti ini. Namun aquariumnya sedikit lebih lebar. http://inventorspot.com/articles/fish_bowls_27109

“Keselamatan itu  adalah suatu kondisi yang terwujud karena adanya selamat. Misalkan, suatu keluarga yang selamat pasti berada dalam keselamatan. Kesejahteraan juga sama, merupakan suatu situasi  yang hadir karena adanya kondisi sejahtera.” Aku akhirnya menjawab Herry dengan nada yang kurang percaya diri karena setelah aku pikir, jawabanku bagai ngasal.

“Terima kasih akhirnya ada yang kasih pandangan.” Herry menyilangkan kedua tangannya ke atas meja, “Benar, keselamatan kesejahteraan itu merupakan suatu kondisi. Tercipta karena adanya suatu fitrah selamat dan sejahtera. Boleh kalian tutup mata, bayangkan Indonesia seluruh masyarakatnya selamat, terhindar dari kekacauan dan kerusakan. Seluruh penduduknya begitu bijak, bersahaja, dan bertanggung jawab. Penduduk tersebar secara merata, lingkungan flora dan fauna terjaga tanpa terjadi tambahan daftar hewan langka, air dimana-mana begitu jernih dan bersih, lalu lintas sangat rapih tertata, jumlah wirausahawan mencapai angka 10% sehingga pengentasan kemiskinan benar-benar terealisasi, sampah selalu dibuang di tempatnya untuk kemudian diolah secara berkesinambungan, seluruh warga saling menghargai sehingga selalu damai dan terhindar dari kekisruhan di manapun di muka bumi Indonesia.” Herry memberi jeda sejenak. Sekitar lima detik kemudian dengan tenang ia melanjutkan. “Kalian boleh buka mata sekarang.”

“Menurut kalian, apakah kita bisa menciptakan itu semua? Tidak secara cepat memang. Pelan tapi pasti.” Herry berkata mantab sambil menganggukkan kepalanya.

>  >  >

Advertisements

SANG RAJA PUN MENJAWABNYA #2

Dengan Beautiful World, Coldplay sebagai musik latar, video sepanjang tujuh menit tersebut menampilkan beberapa cuplikan keadaan Indonesia. Menyorot Indonesia dari berbagai sudut, hutan hujan yang padat pohon hijau indah dilihat dari atas, sungai-sungai dengan hutan di kanan kirinya, kemudian menampilkan kekayaan ragam hayati di hutan, sungai, laut, maupun di padang rumput. Setelah itu berlanjut ke kondisi nyata yang terjadi akhir-akhir ini, kebakaran hutan tanpa henti; degradasi sungai; limbah di perairan Indonesia; beberapa konflik kemanusiaan dengan banyak korban, di Kalimantan dan di Ambon; penggalan-penggalan berita penyelewengan dana negara; gedung sekolah-sekolah negeri yang memprihatinkan; anak-anak di bawah umur yang berkeliaran di jalanan; tsunami tahun 2004 dan penggalan lainnya.

Setelah video selesai, Faril kembali berdiri di tengah-tengah kami semua.

Beautiful World. Saya belum tahu secara pasti maksud dari Chris Martin (vokalis Coldplay-db) tentang lirik lagu itu apa. Terlepas dari itu saya merasa liriknya sangat sesuai dengan keadaan negeri tercinta kita ini, bahkan dengan kondisi bumi keseluruhan. Tuhan menciptakan bumi ini begitu indah untuk kita manusia supaya bisa hidup menjaga bumi ini serta beribadah kepadaNya. Setujukah kalian bahwa beribadah tidak melulu dengan hanya berada di dalam masjid, gereja, wihara, pura, ataupun sinagog?” Ia berhenti beberapa menit untuk melihat anggukan beberapa dari kami, sisanya hanya terdiam, abstain. “Mari, kita sadari bersama berapa banyak yang sholat kalau hari Jumat atau saat tarawih ataupun Hari Raya di masjid-masjid? Begitupun hari Sabtu atau Minggu, berapa banyak gereja yang dipenuhi umat beribadah?,”Faril menatap kami semua di ruangan satu persatu.

“Lalu, mari kita lihat kondisi negara ini. Berapa banyak yang berani mengaku sebagai agnostik, meyakini keberadaan Sang Pencipta namun tidak memiliki agama, atau yang atheis tidak kenal Tuhan sekalian? Pasti tidak banyak. Sedihnya, kenapa kalau kalian lihat tadi, banyak anak-anak kecil bekerja di jalanan? Bumi nusantara terkoyak secara terus – menerus. Menurut statistik, hutan habis setiap harinya hampir seluas 16 kali lapangan bola, sungai dan lautan tercemar, dan masih banyak lainnya yang bisa membuat kita sebagai pencinta negeri ini teriris hatinya. Bagaimana menurut kalian kondisi dimana kita mengaku sebagai umat Tuhan, namun hanya peduli mendapat pahalaNya dengan hanya beribadah sendiri semata tanpa meluangkan waktu memikirkan dan bertindak untuk kondisi sekitar?”

https://rheynaas.wordpress.com/2015/02/11/12-fakta-menarik-tentang-indonesia/
https://rheynaas.wordpress.com/2015/02/11/12-fakta-menarik-tentang-indonesia/

Seseorang mengangkat tangannya untuk kemudian bersuara, “Dengan kita beribadah kepada Tuhan, kita bisa meminta kepadaNya penyelesaian di negeri ini, Mas.” Sepertinya itu adalah Hasbi, yang duduk di sebelah Angie.

“Terima kasih, Hasbi. Ya, benar, Tuhan meminta kita beribadah kepadaNya, meminta hanya kepadaNya. Boleh kita ambil analogi dari kisah Nabi Nuh. Saat itu, Nabi Nuh berdoa kepada Tuhan, meminta petunjuk. Lalu Tuhan perintahkan ia untuk membuat bahtera. Apakah Nabi Nuh setelah diperintahkan membuat bahtera kemudian tetap bersimpuh dan terus berdoa tanpa bertindak? Tidak, Nabi Nuh kemudian langsung membuat bahtera. Seperti kita, apakah kita akan sekedar berdoa terus, padahal Tuhan sudah berikan jawabannya di dalam kitab yang intinya banyak sekali mengarah kepada; peliharalah bumi ini, kasihi sesama,lindungi mahluk ciptaanNya?” Jauh dari sikap menggurui, Faril mengajak kami menelaah secara mendalam.

Hasbi menghembuskan napas, menggembungkan pipinya, lalu mengangguk setuju.

“Saya, disini bukan untuk meminta kalian setuju ataupun sepaham dengan saya. Kami bersebelas disini, bermaksud mengajak kalian untuk melihat sesuatu, hal lain yang bisa menjadi pilihan kalian untuk bertindak demi negeri ini, demi kehidupan bangsa di masa depan kelak.”

“Kami berharap kalian siap.” Lanjut Faril.

“Ada yang pernah baca buku Chronicles of Narnia? Sebentar lagi filmnya rilis, kemungkinan bulan Desember tahun ini.” Laki-laki berkemeja kuning yang sedari tadi duduk di sofa kecil pendek di pojok ruangan tanpa tedeng aling-aling bertanya kepada kami semua. Ia berperawakan sedang.

Aku dan Rengga mengangkat tangan. Aku sudah pernah mendengarnya walaupun belum membacanya. Chronicles of Narnia, buku karangan C. S Lewis, teman dekat J.R.R Tolkien pengarang Lord of The Rings. Kenapa ia menanyakan hal tersebut tiba-tiba. Agak cukup ganjil menurutku.

Chronicles of Narnia. C. S Lewis
Chronicles of Narnia. C. S Lewis

“Ow..hanya dua orang. Ada yang pernah mengunjungi dunia paralel sebelumnya mungkin? Seperti di doraemon, dengan pintu ajaib atau dengan mesin waktu.” Laki-laki yang sama bertanya lagi kepada kami. Kemudian kami mengetahui bahwa nama laki-laki itu adalah Bafi. Semua menggeleng dan tidak sedikit yang mengernyitkan alis. “Hehehe, aneh ya pertanyaanya? Maaf saya nyeleneh.” Faril melempar pandangan kepadanya sambil memutar bola matanya. Bafi nyengir sesaat.

“Boleh kita bagi dua kelompok untuk yang tadi baru pertama kali datang?” Faril langsung mengarahkan kami untuk berkelompok tiga orang dan satu kelompok lagi empat orang. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua. Sepupuku yang menungguku di Semanggipun terlupakan.

“Ok nama kelompoknya A dan B aja bisa?,” Faril bertanya dan dijawab anggukan kami

“Kelompok A bisa bersama Herry, yang berdiri di sana. Bila kalian benar-benar ingin tahu apa yang dapat kita lakukan, kalian dapat menanyakannya kepada Herry.

“Kelompok B, pria dunia paralel bernama Bafi inilah yang akan bersama kalian.” Ujar Faril sambil merangkul bahu Bafi yang masih tetap duduk di sofa.

Aku bersama Hasbi dan Tiara berada di kelompok A. Kami diarahkan Herry ke salah satu ruangan yang sejajar dengan rak-rak buku yang aku lewati tadi saat menuju ruang tengah. Ruangan itu kecil namun tidak berkesan sempit. Interiornya cukup unik, bernuansa Asia Timur. Sebuah PC diletakkan di atas meja kayu pendek untuk lesehan yang menghadap ke pintu masuk ruangan. Lantainya sama seperti ruang rak buku, terbuat dari kayu warna cokelat pucat tanpa dilapisi karpet. Terdapat empat bantal persegi besar berwarna putih bersih dengan hiasan tassel di masing-masing sudutnya. Di dinding belakang meja tempat PC, terdapat foto  zen garden yang indah berbingkai kayu warna hitam minimalis. Di pojok ruangan, di sisi yang sama dengan foto itu, terdapat meja kotak pendek sebagai tempat aquarium minimalis persegi berisi satu ekor ikan cupang biru keunguan. Ruangan itu sungguh tertata dan rapih minimalis. Aku duduk dekat peti rotan yang sekaligus berfungsi sebagai rak buku pendek berisi majalah-majalah yang umumnya mengenai lifestyle dan travel. Herry duduk menghadap layar komputer. Herry berkulit gelap, berkacamata, dengan tinggi badan sekitar 173 cm, dan wajahnya mengingatkanku pada Apl.de.ap salah satu personel grup musik Black Eyed Peas. Ia tampak mengerjakan sesuatu sejenak dan mengetik dengan cepat di keyboard sebelum akhirnya berpaling kepada kami, “Maaf, membuat kalian menunggu sejenak. Saya Herry, kalau ada yang ingin ditanyakan monggo sekarang.” Herry mempersilakan kami dengan tetap di tempatnya duduk.

“Kita sekarang mau ngapain ya?” tanya Hasbi.

“Ok, saya catat dulu. Ada lagi yang lain?”

Kami bertiga saling bertatapan membisu, untuk kemudian berkata hampir serentak, “Itu aja kok.”

“Ok. Ada yang suka fiksi ilmiah disini? Terutama yang tentang dunia paralel.” Tanya Herry, ‘Hmm..dunia paralel untuk kedua kalinya dilemparkan, tadi oleh Bafi, sekarang giliran Herry. Ada apa ini?’ Tanyaku dalam hati.

>  >  >

SANG RAJA PUN MENJAWABNYA #1

Berdialog dengan Tuhan, mungkin merupakan kegiatan yang cukup sering dilakukan sejumlah orang di muka bumi ini. Bersembahyang, sholat, berdoa, beribadah atau bahkan, mengutuk-Nya. Aku pernah melakukan yang terakhir. Memiliki beberapa teman yang terlihat dengan mudah memiliki segalanya bukan perkara gampang bagiku yang termasuk seseorang yang kritis. Di tengah keluarga yang sering kesulitan dalam perekonomian, aku terbentuk menjadi pribadi yang selalu memiliki impian tinggi untuk bisa melampaui orang- orang kebanyakan. Beberapa sepupuku, baik dekat maupun jauh hampir sama dengan temanku itu, tidak bergelut dengan masalah perekonomian. Sekolahku merupakan salahsatu sekolah swasta elit di daerah tempat tinggalku. Murid yang bersekolah disana umumnya adalah anak orang berada karena biaya sekolah yang diatas biasanya. Aku, mulai mengutuk Tuhan di saat aku melihat kenyataan bahwa beberapa temanku yang tidak dididik secara religius oleh orangtua mereka, selalu mudah mendapatkan yang mereka inginkan. Aku, yang selalu berbicara dengan Tuhan, begitu mencintaiNya sejak kecil, bagai diabaikanNya. Pernah suatu ketika saat aku mendambakan sepatu baru karena sepatuku sudah tidak layak lagi, Tuhan bagai meledekku dengan memperlihatkan sepatu yang kuinginkan dibeli oleh sejumlah temanku. Beberapa kali aku juga dipanggil kepala sekolah karena orangtuaku terlambat membayar uang sekolah. Kini ketika aku mengingatnya, tidak sepantasnya sebuah sekolah elit yang mengusung sistem pendidikan terbaik malah memanggil muridnya untuk urusan seperti itu, bukan memanggil orangtuanya. Murid seharusnya difokuskan belajar, bukan dibebani informasi tentang uang sekolah yang terlambat. Konyol sekali sekolahku itu dulu.

Rasa tidak bersyukur mulai kukenal, kami mulai dekat sejak aku kelas 6 Sekolah Dasar. Kupanggil saja ia sang iri hati. Tuhan tidak adil, begitu aku membatin acap kali aku mendapati diriku sial. Sang iri hati terkadang pergi seiring dengan munculnya si  sabar, yang meyakinkan diriku bahwa aku ini istimewa, tidak biasa, dan Tuhan menyayangiku. Sang iri hati dan si sabar datang bergantian, berperang, sering juga berdiskusi di ruang gelap dalam diriku. Si sabar terkadang menjamu sang iri hati ke bilik terang sambil mendengarkan keluh kesahnya.  Hingga kuliah, kedua penghuni hatiku itu muncul menjadi dominan secara bergantian. Pernah suatu ketika, di saat sang iri yang memegang singgasana, aku hanya menjalankan ritual ibadah hanya sekedar kebiasaan tanpa dimasukkan dalam hati sambil terus membenciNya. Namun di tahun 2004 aku membuat puisi, yang isinya merupakan rasa syukurku padaNya. Aku merasa istimewa telah diciptakan olehNya. Dalam kehidupan sehari-hari, aku tidak termasuk dalam kategori yang puas dengan menjadi biasa-biasa saja. Aku selalu berpikir bahwa aku istimewa dan tidak pantas bila hanya hidup rata-rata. Setahun kemudian saat-saat yang merubah hidupku  180° itupun, datanglah.

Maret, 2005.

Aku dan seorang sepupuku sangat menyukai musik band-band indie lokal. Ican, sepupuku itu, cukup manis dan selalu berpenampilan menarik. Ia berpotensi menjadi trendsetter menurutku. Memiliki cukup banyak penggemar, karena gen ayahnya ia berbadan langsing tanpa perlu khawatir menjadi gemuk walaupun hobi makan, berkulit gelap, dan lima sentimeter lebih tinggi daripada aku. Kami berdua sering menghadiri acara-acara musik indie lokal yang diadakan oleh temannya ataupun oleh temanku. Kalau kalian pernah datang ke salah satu gigs di parc seberang Pasaraya Blok M mungkin pernah bertemu dengan kami di masa itu. The Adams, Ape on The Roof, LAIN, SORE Zeband, Tika, The Sastro, Rock’n Roll Mafia,  Zeke and The Popo, dan banyak musisi jenius lokal lainnya pernah mewarnai hidup kami. Aku dan sepupuku benar-benar seperti partner in crime kala itu, selalu bersama menghadiri acara musik sampai lewat tengah malam. Kalian tidak perlu cemas membayangkan kehidupan malam kami dihiasi minuman beralkohol ataupun menghisap rokok dan ganja. Kami bukan anak muda kebanyakan, kami istimewa. Teman-teman musisiku pun banyak yang bersih dari rokok dan alkohol.

Salah satu band cerdas yang menghiasi hidupku kala itu. http://kvltmagz.co/where-are-you-lain-band/
Salah satu band cerdas yang menghiasi hidupku kala itu. http://kvltmagz.co/where-are-you-lain-band/

Siang itu, di hari Minggu di bulan Maret 2005 Ican dan aku pergi berdua ke suatu gerai makanan cepat saji yang bermaskotkan Om Ronald. Disana Ican ternyata bertemu dengan dua orang temannya untuk suatu urusan. Aku diperkenalkan dengan mereka. Fisik keduanya hampir setipe dengan Ican. Langsing, berkulit gelap, berambut lurus hitam, dan menarik. Salah satunya yang bernama Angie, berparas cantik dengan warna kulit wajah cokelat emas setipe kulit Beyonce menurutku. Setengah jam kemudian, teman-temannya pamit namun sepupuku bertanya apakah kami bisa ikut menumpang mereka dan langsung diiyakan oleh mereka. Di dalam mobil, teman sepupuku satunya lagi bernama Karin yang duduk di sebelah Angie yang mengemudi mobil, sibuk membolak-balik suatu kertas yang menarik perhatianku. Kertas itu tebal dan memiliki desain unik, seperti gunungan wayang. Mungkin itu adalah undangan pernikahan, diriku membatin.

“Kita sebenarnya diundang teman kita nih sekarang, ini undangannya,” ucap Karin sambil tersenyum dan menyodorkan kertas yang menarik perhatianku tadi ke sepupuku dan aku. “kalau mau ikutan boleh, atau kalau kalian ga bisa kita drop kalian dimana, baru setelah itu kita berdua kesana.”

Sepupuku duduk tepat di sebelah kiriku, akhirnya aku melihat undangan yang berwarna abu-abu gelap dan dihiasi dengan ornamen cokelat pucat itu dengan cukup jelas. Tulisannya diemboss warna kuning muda. Isi undangan tersebut seperti ini:

Untuk Kamu

Orang Istimewa yang Masih Punya Cinta;

Kita semua masih bisa memperbaikinya,

kalau kamu ada sedikit rasa peduli.

Kita semua bisa beranjak bangkit sekarang,

berawal dari pemikiran sederhana.

Kita semua bisa merubahnya, diawali dari diri kita,

dengan langkah kecil menuju lompatan besar.

Demi Indonesia dan bumi kita.

Bagikan inspirasimu di:

“Jurnal Kita Bab Satu”

Hari Minggu, (aku lupa tanggalnya) Maret, 2005

12.00 wib – selesai

The Three

Mari kita mulai merangkainya bersama, dari sekarang.

Damn! Keren sekali. Apa ya ini? Ini seperti invitation ad-racks untuk acara-acara ladies nite yang biasa ada di rak depan ak.’sa.ra bookstore Kemang, namun lebih berbobot.

“Ini acara apa, rin?” aku bertanya pada Karin.

“Teman kita ini Indonesia banget gitu deh, lagi mau ada proyek untuk ningkatin rasa cinta tanah air ke anak-anak muda.”

Aku melirik ke kiri melihat  raut wajah sepupuku, apakah ia tertarik atau tidak. Aku memutuskan ikut, walaupun sepupuku nantinya tidak tertarik. Baru aku akan membuka mulut memutuskan ikut, telepon seluler sepupuku berdering. Dari nada percakapannya ada duka di seberang sana. Teman sepupuku ada yang meninggal dan ia tidak bisa ikut ke undangan tersebut. Ia bertanya apakah aku akan menemaninya atau ikut bersama dua temannya ke undangan tadi. Tanpa mengurangi rasa sayangku kepada sepupuku, aku menyatakan ikut dengan kedua temannya. Sepupuku akhirnya diturunkan di suatu halte tempat taksi berkumpul. Aku, yang sedari kecil sering bertindak impulsif, tidak membuat heran sepupuku hari itu dengan keputusanku. Aku yang heran pada diriku. Kenapa aku begitu tertarik padahal aku belum tahu tempat acara itu berlangsung.

“Emang acaranya dimana ini?”

“Pernah ke bukafe? Ga jauh dari situ.” Jawab Angie.

“Ok. Sip!” jawabku.

Undangannya berbentuk hampir mirip seperti ini. Ruang tengah di The Three kira-kira seperti ini. Bedanya karpet bulu putih lembut di The Three menutupi hampir seluruh ruangan. Tidak ada meja dan kursi di ruang atas tangga. http://www.reclaimedflooringco.com/wp-content/uploads/2014/08/nordic-bliss-scandinavian-style-wood-floor-dinesen-white-1-940x500.jpg
Undangannya berbentuk hampir mirip seperti ini. http://www.suryoart.com/2013/05/blog-post.html

Lima belas menit kemudian, kami sampai di lokasi. Ok, ternyata tempatnya adalah sebuah rumah berlahan luas dan aku dalam sekejap mengetahui penyebab kenapa tempat itu disebut The Three, tertera di temboknya, rumah itu nomor 03. Rumah minimalis bernuansa putih dengan garasi luas dan cukup asri sekaligus elegan. Setelah memasuki pagar tinggi berwarna putih, ada gerbang kedua yang juga berwarna putih terbuka menuju garasi belakang yang luas. Telah ada beberapa mobil dan banyak kendaraan roda dua terparkir rapi di dalam garasi luas rumah tersebut. Kami masuk ke dalam rumah itu dari pintu belakang. Rumah itu bukan merupakan tempat tinggal. Di dalamnya tidak ada tanda-tanda hunian, karena lebih seperti kantor. Ketika masuk, sama seperti lantai rumah ini,  rak-rak cukup tinggi di sisi kiri ruangan terbuat dari kayu berwarna cokelat pucat berisi buku-buku  tersusun rapi dan sistematis. Rumah ini berukuran minimalis. Ada dua ruangan di lantai bawah dengan pintu terbuka  yang seluruhnya berisi meja dengan PC. Salah satu ruangan berada di deretan rak-rak kayu. Sebelum berbelok kanan menuju ruang tengah aku melihat ada tangga menuju lantai atas. Belum lima menit, aku sudah merasakan kenyamanan di rumah itu. Karpet bulu putih kurasakan begitu lembut di telapak kakiku begitu melangkah ke ruang tengah yang dilalui dengan menuruni tiga anak tangga dari ruang rak-rak buku. Karin dan Angie menghampiri seorang pria muda berperawakan sedang kurus berkacamata di ruang tengah. Tampaknya ia adalah teman mereka yang membuat undangan. Sudah ada beberapa orang berkumpul di ruang tengah, ada pula yang duduk di sofa di pojok ruang tengah. Seluruhnya sepantaran kami bertiga, berusia awal dua puluhan berjumlah total 18 orang. Sepuluh perempuan dengan delapan laki-laki termasuk teman Angie dan Karin.

“Terima kasih teman-teman yang hadir disini. Selamat datang.” seorang perempuan manis berkacamata, bermata sipit berdiri di tengah ruangan yang sesaat setelahnya kuketahui bernama Tiyas, menyambut kami semua yang duduk di sofa ataupun duduk bersila di atas karpet bulu putih lembut.

“Mungkin beberapa yang hadir sudah pernah bertukar pikiran dengan kami sebelumnya ya?,” yang diiyakan dengan anggukan dari beberapa yang hadir, “bagi yang baru pertama kali hadir, tempat ini kami sebut The Three karena kita di area Duren Tiga. Panjang ceritanya.” Jelas Tiyas. ‘Oh ternyata bukan karena nomor rumahnya.’ Batinku.

“Oia, maaf belum memperkenalkan diri. Nama saya Tiyas. Sesuai di undangan, kita hari ini akan saling berbagi tentang impian-impian ataupun keresahan-keresahan kita khususnya terkait Indonesia. Bagi yang sudah pernah hadir, cukup ditulis saja. Bagi yang baru hadir, dapat membagikan kepada kita semua isi hatinya. Boleh berdiri, boleh duduk di tempatnya. Mohon dengan suara yang bisa didengar ya.” Kemudian Tiyas pun langsung duduk bersila di dekat pria berkacamata teman Karin dan Angie yang tampak sibuk dengan laptopnya. Ternyata ada tujuh orang yang baru pertama kali hadir disitu. Empat laki-laki, tiga perempuan termasuk aku. Kami membagikan isi hati kami satu persatu. Semuanya tentang Indonesia. Ada yang memiliki impian untuk membuat peraturan terkait pendidikan agar tidak malah membebani siswa, ada yang resah dengan tingkat pembabatan hutan tanpa henti, ada juga yang mengkhawatirkan problem sampah yang bagai tanpa terselesaikan, ada yang mendambakan Indonesia seperti negara-negara skandinavia yang begitu bersih dan nyaman, ada yang sangat ingin Indonesia memiliki subway sebagai sarana transportasi alternatif di kota – kota besar, ada yang memikirkan mengenai kelangkaan air di beberapa daerah di Indonesia yang disebabkan limbah dan aktivitas pertambangan. Aku punya impian, kelak bangsa ini akan memegang kendali roda kemudi bangsa, menjadi nahkoda mandiri tanpa harus bergantung pinjaman lunak atau apapun namanya itu. Setelah satu jam berada di ruangan tersebut, aku tersadar bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa mengikuti pertemuan itu. Di tahun 2005, menurut data statistik, dari dua ratus juta penduduk Indonesia, 50% nya merupakan usia produktif. Tidak semua orang di angka produktif tersebut memikirkan keberadaan lingkungan sekitar, keberlangsungan bangsa ini, bagaimana negara ini ke depannya. Semua yang duduk di ruangan itu sungguh memikirkan bangsa ini.

Setelah kami bertujuh selesai mengungkapkan isi hati tentang Indonesia. Laki-laki berkacamata yang dihampiri Karin dan Angie sewaktu acara belum mulai, bangkit dan berjalan ke tengah-tengah kami . Ia tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki, namun proporsional dan kharismatik.

“Perkenalkan, saya Faril. Kami di The Three mengadakan pertemuan secara rutin seperti ini,” Faril menekankan suaranya di dua kata terakhir entah kenapa, “setiap hari Minggu sejak awal tahun ini.” Ia meminta Tiyas dan seorang laki-laki berkemeja biru muda menyalakan infocus. “Terima kasih untuk sharing teman-teman tadi. Belum banyak anak-anak muda Indonesia seperti teman-teman disini. Mau meluangkan waktu sejenak berpikir untuk Indonesia. Terima kasih atas kehadiran  Arfan, Tiara, Nitha, Rico, Irdi,” mata Faril mengarah kepadaku, “Hasbi, dan Rengga.” Aku salut, ia bisa menghafal nama kami bertujuh begitu cepat.

Infocus sudah menyala, menyorot ke tembok di sisi kananku.

“Kita akan menonton video pendek.” Ujar Faril kemudian, sambil kembali ke laptopnya.

Ruang tengah di The Three kira-kira seperti ini. Bedanya karpet bulu putih lembut di The Three menutupi hampir seluruh ruangan. Tidak ada meja dan kursi di ruang atas tangga. http://www.reclaimedflooringco.com/wp-content/uploads/2014/08/nordic-bliss-scandinavian-style-wood-floor-dinesen-white-1-940×500.jpg

>  >  >

POHON YANG BAIK

Slide1

“Seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit,

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhan.

Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk,

 yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi;

tidak dapat tetap tegak sedikitpun.”

-Ayat Suci-

Seseorang yang bijak pernah memberikan kami kisah luar biasa berikut ini. Kubagikan sebagai pengantar kisah Para Penyelamat Bumi

11648-the-moon-shining-through-clouds-at-night-pv

SEPENGGAL KISAH DI BAWAH LANGIT TURKI

Di dalam buku hariannya Sultan Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan berkata kepada kepala pengawal: “Mari kita keluar sejenak.

Satu diantara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara  menyamar.

Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka di sebuah lorong yang sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.

Sultan pun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya: “Apa yang kau inginkan?.”

Sultan menjawab: “Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang mau mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”

Mereka berkata: “Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina”.

Sultan menimpali: “Tapi . . bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya”.

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.

Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap: Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah.. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh”

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget.. Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya”.

Sang istri menjawab: “Sudah kuduga pasti akan begini…”

Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dia bawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata:  “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin.”

Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”

Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.”

Orang-orangpun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”.

Ia hanya tertawa, dan berkata: “Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya.”

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatkannya dan menguburkannya.”

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat.

(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhory dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV)

Wallahualam

“Kedepankan prasangka baik terhadap saudaramu.

Boleh jadi orang yang selama ini kita anggap sebagai penduduk Jahannam,

ternyata penghuni Firdaus yang masih melangkah di bumi.”

***

Maret 2005, merupakan awal pertemuanku dengan orang-orang luar biasa dalam kehidupanku. Para penyelamat bumi, kalau aku boleh menyebut mereka semua dengan itu. Mereka memberi, tanpa berharap menerima imbalan. Bermimpi besar, bukan hanya untuk pribadi mereka masing-masing, melainkan masyarakat sekitar dan dunia keseluruhan.

***

Ketika sekolah hingga kuliah, hampir semua teman dekatku melihatku sebagai seseorang yang berpotensi meraih kesuksesan dengan cepat di masa depan. Bersosialisasi dengan baik, aktif, dan mudah berinteraksi dengan pribadi-pribadi dari beragam status sosial. Waktu Sekolah Menengah Pertama, akulah yang menggagas pesta perpisahan mandiri untuk kami murid-murid dari empat kelas di kelas tiga tanpa kehadiran guru-guru. Semua antusias berpartisipasi cukup dengan membayar tiket Rp. 3000. Kami mengadakan pesta itu di rumah pamanku yang selama tiga tahun kosong tak dihuni, berada tepat di sebelah kiri rumahku. Sehari setelah pesta itu, aku dipanggil wali kelas. Ia kecewa kami tidak mengundang mereka, guru-guru ke pesta itu. Ya, mungkin Ibu akan tertarik datang ke pesta kami yang bertema Sandals’ Farewell Party dimana yang datang semua memakai sandal jepit dan ikut pesta bersama kami sampai tengah malam. Heum…tidak tertutup kemungkinan Ibu ikut kompetisi sandal jepit hias paling keren dan keluar sebagai juara harapan.

Di Sekolah Menengah Umum, aku adalah satu diantara sedikit perempuan yang suka ikut taruhan dengan sejumlah teman laki-laki menjagokan tim sepak bola kebanggaan masing-masing. Tidak jarang kami bertaruh pur-puran. Pada ujian akhir kelulusan hari ketiga, teman-teman pun tahu aku begitu mengantuk setelah menonton semi final Liga Champion tim jagoanku. Karena kegemaran yang tidak lazim itu, berjudi dengan para laki-laki pencinta bola, aku jadi memiliki teman laki-laki dari beragam gang, yang mungkin tidak diketahui teman-teman dekatku yang kesemuanya walau tidak dapat dikatakan populer, adalah para murid perempuan yang cukup dikenal di sekolah. Aku berbeda dari teman-teman dekatku. Mereka sering mengkhawatirkan diriku memiliki orientasi seksual yang menyimpang karena tidak pernah tertarik berpacaran walau ada beberapa teman laki-laki mendekati. Aku, hanya ingin menjadi seseorang yang untouched, sampai saatnya tiba diberi pendamping hidup oleh Tuhan. Itu saja.

Saat kuliah, tidak terlalu jauh berbeda, aku memiliki teman dekat yang semuanya perempuan dan aku juga menjalin pertemanan dengan teman laki-laki dari beragam fakultas. Tapi, saat kuliah, aku sudah mulai meninggalkan kebiasaan taruhan. Aku lebih sering membicarakan musik dengan teman laki-lakiku. Aku pernah mendapat hadiah ulang tahun dari dua teman laki-lakiku, digimbal halus. Kalau biasanya mereka memasang tarif Rp. 300,000 menjalin rambut gimbal, untukku mereka memberinya gratis. Aku begitu menyukai mereka. Mereka adalah dua diantara teman-temanku yang tulus dan baik. Ketika kuliah, aku cukup aktif berorganisasi. Pernah diajak teman menjadi dewan pengawas senat mahasiswa, yang awalnya aku tolak. Namun, ternyata aku mencintai dunia politik kemahasiwaan. Saat itu aku tertarik masuk ke dunia politik negara kelak, berkontribusi untuk Indonesia.

***

Tahun 2005, aku mulai serius mengerjakan skripsiku yang telah berganti judul beberapa kali. Aku berpikir bahwa aku harus menyukai sepenuh hati apa yang aku tulis, menjadikan skripsi sebagai karyaku bukan kewajibanku. Setahun sebelumnya, aku menggeluti bisnis jaringan, yang memberiku banyak ilmu bisnis, kepemimpinan, dan motivasi. Bekalku di kemudian hari. Skripsiku sempat terbengkalai setahun karena aku fokus di bisnis itu. Di bulan ketiga tahun 2005 aku dipertemukan oleh Tuhan dengan kehidupan istimewa yang bagai fantasi dan penuh tantangan bagiku, baik menyenangkan maupun mencekam. Heroik ataupun dramatis. Dunia yang menurut teman-temanku telah merenggutku dari anggapan mereka mengenai kesuksesan dini yang bisa kuraih. Dunia luar biasa, yang bahkan bisa membuat Alice berpaling dari Wonderland.

https://www.pinterest.com/mirelalt/alice-in-wonderland/
https://www.pinterest.com/mirelalt/alice-in-wonderland/

> > >